Sabtu, 21 Mei 2016

CONTOH CERPEN SAHABAT "BIARKAN WAKTU MENJAWAB"


Ini adalah hari pertama semester baru dimulai. Safa menyusuri jalan menuju gerbang sekolah dengan tergesa-gesa. Sekarang ia bersekolah di SMA Negeri 1 Jakarta. Sekarang sudah pukul 06.30 WIB upacara pembukaan mos akan segera dimulai. Saat memasuki lingkungan sekolah ia segera menuju ke lapangan tengah. Syukurlah upacara belum dimulai. Sebelum memasuki barisan, ia melihat ke mading. Ya, disanalah namanya tertulis, Safa Arindita kelas X-I. Langsung ia menuju ke barisan kelasnya. Ia berkenalan dengan sesama teman perempuan barunya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.Sontak Safa menoleh, senyumnya mengembang.
“Kiran !!!” pekiknya keras.
“Hai Fa! Lama nggak ketemu kamu, ternyata kita sekelas ya.” Kiran tersenyum.
Safa dan Kiran memang telah bersahabat dari kecil, namun saat mereka berusia 10 tahun ayah Kiran memutuskan untuk pindah ke Surabaya karena tuntutan pekerjaan. Kini mereka dipertemukan lagi di SMA yang sama.
Upacara telah selesai, Safa dan Kiran berjalan bersama menuju ke kelas mereka. Sekolah ini memang termasuk sekolah favorit di Jakarta.Tiba-tiba seseorang menabrak Safa dan membuat topinya terjauh.
“Eh maaf, ini topi lo.”Lelaki itu membungkuk dan mengambil topi Safa.
“Nggakpapa lain kali hati-hati ya.” Ia menjawab dengan lembut.
Laki-laki itu memandang Safa dan mengembalikan topi miliknya. Lelaki itu bertubuh tinggi dengan bentuk wajah oval, kulitnya putih langsat, rambutnya lurus. Lelaki itu tersenyum dan meninggalkannya.
Setelah mencari tahu tentang lelaki itu, ternyata namanya Alex. Ia sekarang murid kelas XII dan yang mengejutkan ia memiliki seorang adik laki-laki. Adiknya bernama Aldo, teman sekelas Safa.
“Lo suka sama abang gue ya?” Tanya Aldo cengengesen.
“Enggak ! Apaan sih do!”
Aldo dan Teddy duduk dibelakang bangku Safa, anak ini selalu menjahilinya. Namun mereka juga sangat baik. Ia memberi contekan Safa saat mereka sedang ulangan Matematika. Sampai sekarang mereka berempat bersahabat Safa,Kiran,Aldo dan Teddy. Mereka sering berkumpul dibawah pohon flamboyan belakang sekolah.
Aldo sering membelanya saat ia terpojok oleh Dita dan teman-temannya saat ulangan telah dibagikan. Hasilnya Dita memang sering iri dengan Safa, namun Aldo selalu datang disaat seperti itu.Aldo juga sering membawakan bekal makan siang karena uang saku Safa tidak cukup untuk membeli nasi di kantin. Jika ia membeli nasi maka ia tidak akan bisa pulang ke rumah.
Sekarang mereka sudah kelas XI. Aldo, Teddy dan Kiran tidak satu kelas lagi dengannya. Namun mereka masih sering berkumpul bersama dibawah pohon flamboyan. Takdir yang aneh menyatukan antara Safa dan Dita. Mereka satu kelas lagi dikelas XI.Aldo termasuk siswa kelas sebelah, XI-II dan Kiran XI-IV sedangkan Teddy XI-IX. Suatu hari Dita membuat ulah, ia memperlakukan Safa dengan kasar, ia tidak terima bahwa Safa mendapat nilai ulangan lebih baik darinya. Dita langsung uring-uringan tidak jelas didepan Safa. Setelah Dita pergi dari Safa, Aldo segera berlari menemui Safa dikelasnya.
“Eh lu Do, ngapain lo disini? Kangen sama gue?” Safa tersenyum.
“Lo kok diem aja sih Dita marah-marah gitu ke lo?” Tanya Aldo heran.
“Dia cuman marah-marah sendiri Do, gue nggak ngerasa sama sekali.” Kali ini ia tersenyum lebar.
“Lo tuh ya Fa, bego apa gimana gue nggak ngerti sama pemikiran lo.”
“Udahlah Do, masalah kaya gitu nggak penting mending ke kantin aja yuk gue laper.”
Safa menarik tangan Aldo dan mengajaknya kekantin. Aldo tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Safa, gadis ini berbeda ada perasaan aneh dibenak Aldo, perasaan yang tidak bias dijelaskan oleh kata-kata. Ia ingin melindungi gadis ini.
Akhir pekan selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Hari ini Safa, Kiran, Aldo dan Teddy bepergian sesuai rencana Kiran yang sangat cerewet diantara mereka. Mereka berempat pergi ke Taman Fantasy di Jakarta. Safa dan Kiran tersenyum sepanjang waktu. Aldo san Safa pulang bersama.
Bagi Safa, Aldo adalah satu-satunya lelaki yang sangat baik kepadanya setelah Ayahnya. Ia sangat perhatian kepadanya, Safa diam-diam menyukai Aldo. Menurutnya, lelaki ini adalah cinta pertamanya. Mereka mampir ke sebuah Kafe yang tidak jauh dari Taman Fantasy.
“Fa, lo gue anter ya ntar sampai rumah.” Aldo membuka percakapan.
“Nggak usah Do, ngrepotin lo banget.”
“Nggak Fa, lagian juga naik motor kok.”
“Nggak ganti uang bensin dong gue.” Ucap Safa cekikikan.
“Fa gue mau ngaku sama lo.”
“Ngaku apaan? Muka lo nggak usah sok manis gitu deh.” Safa kembali tertawa.
“Gue suka sama lo Fa dari dulu.” Ucap Aldo serius.
Kaget, itu yang Safa rasakan saat ini. Ia tidak menyangka Aldo akan mengatakan hal itu padanya. Bimbang yang sekarang melandanya.Aldo, sahabatnya yang berhasil membuat dirinya terpesona kini menyatakan cinta padanya. Ia sangat senang Aldo memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun bagaimana dengan Kiran dan Teddy ?. Ia tak ingin persahabatan mereka hancur berantakan.
“Fa, lo kok diem aja gue cuman ngutarakan perasaan gue ke lo kok.”
Safa masih terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan hancurnya persahabatan mereka. Setiap ada Aldo ia akan berusaha menjauh dan bersiap acuh. Aldo terus menjadi bayang-bayang Safa wajah lelaki itu, bagaimana ia menjaganya. Sungguh hal ini menyakitkan bagi Safa. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan hampir 4 bulan ini ia dan Aldo tidak pernah bersama lagi.
Kiran dan Teddy mengetahui ada yang mencurigakan diantara kedua sahabatnya itu. Mereka berdua bertanya pada Safa san Aldo namun keduanya hanya mengatakan bahwa tidak ada apa-apa diantara mereka. Hingga saat mereka berempat lulus, Safa dan Aldo belum berbaikan. Aldo terus mengunjungi rumah Safa namun gadis itu terus menerus punya cara untuk menghindari dirinya.
Beberapa minggu kemudian Aldo menghilang. Safa mulai merasa kehilangan. Ia merasa bersalah telah mengacuhkan Aldo, tetapi ia hanya mencoba menyelamatkan persahabatan mereka. Kiran akhirnya menanyakan kembali alasan Safa menghindar setiap ada Aldo. Akhirnya ia menceritakan apa yang terjadi diantara ia dan Aldo. Kiran mendengarkan dengan seksama dan akhirnya memberikan saran.
“Jadi selama ini lo sama Aldo kaya gitu gara-gara Aldo terus terang kalau dia suka sama lo, terus lo ngehindar dari dia karena lo nggak mau persahabatan kita bubar?”
“Iya ran, gue cuma nggak mau persahabatan kita bubar gitu aja cuma masalah cinta.”
“Tetapi kini dia menghilang ran, gue ngerasa bersalah.” Safa merasa bersalah.
“Lo udah nanya ke rumahnya? Udah berusaha menghubungi nomornya?”
“Udah ran, dan semuanya nihil. Rumah Aldo kosong, pembantunya mengatakan bahwa Aldo dan Alex melanjutkan study ke luar negeri. Gue sayang sama Aldo ran.” Akirnya air mata Safa berhasil keluar.
“Fa percaya deh, Aldo bakal balik ke lo suatu saat nanti. Tunggu saat itu dengan sabar.”Kiran menguatkan Safa.
Bertahun-tahun telah berlalu, Safa tetap menunggu Aldo, walaupun banyak lelaki yang menyatakan perasaan kepadanya, baginya Aldo lah yang mampu membuatnya jatuh hati. Saat ini ia telah bekerja disalah satu kantor swasta di Jakarta. Sehari-hari ia sibuk dengan rutinitas kerjanya, Kiran juga satu kantor dengannya. Sahabatnya itu saat ini telah menjadi kekasih Teddy. Mereka bertiga masih sering berkumpul bersama saat pulang kerja atau weekend.
Hari ini disaat Safa dan Kiran pulang bersama tiba-tiba Teddy datang menjemput mereka dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Mobil Avanza hitam milik Teddy melaju kencang membuyarkan keramaian kota Jakarta. Akhirnya setelah beberapa menit mereka sampai disebuah Kafe yang tidak terlalu mewah. Mereka duduk dan memesan beberapa makanan dan minuman.
“Fa, lo beneran nggak tahu sekarang Aldo dimana?” Tanya Teddy.
“Nggak tahu ted, emang lo tahu?” Jawab Safa.
“Engga juga, kemana ya dia sekarang kangen rasanya.” Jawab Teddy.
“Lo kangen sama dia Fa?” Tanya Kiran pada Safa
Safa hanya terdiam, memang bayangan Aldo belum bisa ia hapus dari hatinya. Masih terbayang hal-hal manis yang selalu lelaki itu lakukan untuknya. Betapa manis kenangan waktu itu saat mereka bersama, mereka berempat, ya waktu itu sekarang hanyalah kenangan. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.Safa menoleh dan senyumnya mengembang. Lelaki yang ia sukai berdiri dibelakangnya dan membawakan kue ulang tahun dan sebuket bunga.
“Selamat ulang tahun fa,” Aldo tersenyum padanya
“Lo kok bisa disini? Darimana aja lo selama ini?”Ucap Safa terharu.
“Jadi gini dulu gue nggak sengaja ketemu Aldo  di Perusahaan Ayah gue, makanya gue ajakin dia kesini. Dia nanyain lo terus sih fa!” Jawab Teddy cekikikan.
Mereka berempat kembali bersama layaknya dulu pada saat mereka SMA. Mereka bertiga memberikan kado kepada Safa namun Aldo lah yang memberikan kado terbesar.
“Fa, selama ini gue menghilang dari lo, karena gue pikir gue bisa bikin perasaan gue ke lo menghilang. Namun ternyata semuanya sama saja. Lo tetep satu-satunya orang yang gue sayang” Aku Aldo, “Lo mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Aldo dengan serius.
Berat untuk Safa menjawabnya, namun ia tak ingin kehilangan Aldo lagi. Akhirnya Safa mengangguk pasti. Aldo yang melihatnya mengangguk langsung memeluknya. Ia sangat bahagia memiliki Safa. Ia ingin melindungi gadis ini.
Akhirnya mereka berempat bisa berkumpul bersama kembali, seperti masa-masa saat mereka di SMA. Namun sekarang status mereka bukan hanya seorang sahabat namun juga sepasang kekasih yang saling mencintai.