Ini adalah hari pertama semester baru dimulai. Safa menyusuri jalan
menuju gerbang sekolah dengan tergesa-gesa. Sekarang ia bersekolah di SMA
Negeri 1 Jakarta. Sekarang sudah pukul 06.30 WIB upacara pembukaan mos akan
segera dimulai. Saat memasuki lingkungan sekolah ia
segera menuju ke lapangan tengah. Syukurlah upacara belum dimulai. Sebelum
memasuki barisan, ia melihat ke mading. Ya, disanalah namanya tertulis, Safa
Arindita kelas X-I. Langsung ia menuju ke barisan kelasnya. Ia berkenalan
dengan sesama teman perempuan barunya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari
belakang.Sontak Safa menoleh, senyumnya mengembang.
“Kiran !!!”
pekiknya keras.
“Hai Fa! Lama
nggak ketemu kamu, ternyata kita sekelas ya.” Kiran tersenyum.
Safa dan Kiran
memang telah bersahabat dari kecil, namun saat mereka berusia 10 tahun ayah
Kiran memutuskan untuk pindah ke Surabaya karena tuntutan pekerjaan. Kini
mereka dipertemukan lagi di SMA yang sama.
Upacara telah
selesai, Safa dan Kiran berjalan bersama menuju ke kelas mereka. Sekolah ini memang
termasuk sekolah favorit di Jakarta.Tiba-tiba seseorang menabrak Safa dan
membuat topinya terjauh.
“Eh maaf, ini
topi lo.”Lelaki itu membungkuk dan mengambil topi Safa.
“Nggakpapa lain
kali hati-hati ya.” Ia menjawab dengan lembut.
Laki-laki itu
memandang Safa dan mengembalikan topi miliknya. Lelaki itu bertubuh
tinggi dengan bentuk wajah oval, kulitnya putih langsat, rambutnya lurus. Lelaki itu tersenyum
dan meninggalkannya.
Setelah mencari
tahu tentang lelaki itu, ternyata namanya Alex. Ia sekarang murid kelas
XII dan yang mengejutkan ia memiliki seorang adik laki-laki. Adiknya bernama
Aldo, teman sekelas Safa.
“Lo suka sama
abang gue ya?” Tanya Aldo cengengesen.
“Enggak ! Apaan
sih do!”
Aldo dan Teddy
duduk dibelakang bangku Safa, anak ini selalu menjahilinya. Namun mereka juga
sangat baik. Ia memberi contekan Safa saat mereka sedang ulangan Matematika. Sampai sekarang mereka
berempat bersahabat Safa,Kiran,Aldo dan Teddy. Mereka sering berkumpul dibawah
pohon flamboyan belakang sekolah.
Aldo sering
membelanya saat ia terpojok oleh Dita dan teman-temannya saat ulangan telah
dibagikan. Hasilnya Dita memang sering iri dengan Safa, namun Aldo selalu
datang disaat seperti itu.Aldo juga sering membawakan bekal makan siang karena
uang saku Safa tidak cukup untuk membeli nasi di kantin. Jika ia membeli nasi
maka ia tidak akan bisa pulang ke rumah.
Sekarang mereka
sudah kelas XI. Aldo,
Teddy dan Kiran tidak satu kelas lagi dengannya. Namun mereka masih
sering berkumpul bersama dibawah pohon flamboyan. Takdir yang aneh
menyatukan antara Safa dan Dita. Mereka
satu kelas lagi dikelas XI.Aldo termasuk siswa kelas sebelah, XI-II dan Kiran
XI-IV sedangkan Teddy XI-IX. Suatu hari Dita membuat ulah, ia memperlakukan
Safa dengan kasar, ia tidak terima bahwa Safa mendapat nilai ulangan lebih baik
darinya. Dita langsung uring-uringan tidak jelas didepan Safa. Setelah Dita pergi dari
Safa, Aldo segera berlari menemui Safa dikelasnya.
“Eh lu Do,
ngapain lo disini? Kangen sama gue?” Safa tersenyum.
“Lo kok diem aja
sih Dita marah-marah gitu ke lo?” Tanya Aldo heran.
“Dia cuman
marah-marah sendiri Do, gue nggak ngerasa sama
sekali.” Kali ini ia tersenyum lebar.
“Lo tuh ya Fa,
bego apa gimana gue nggak ngerti sama pemikiran lo.”
“Udahlah Do,
masalah kaya gitu nggak penting mending ke kantin aja yuk gue laper.”
Safa menarik
tangan Aldo dan mengajaknya kekantin. Aldo tidak mengerti apa yang dipikirkan
oleh Safa, gadis ini berbeda ada perasaan aneh dibenak Aldo, perasaan yang
tidak bias dijelaskan oleh kata-kata. Ia ingin melindungi gadis ini.
Akhir pekan
selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Hari ini Safa, Kiran,
Aldo dan Teddy bepergian sesuai rencana Kiran yang sangat cerewet diantara
mereka. Mereka
berempat pergi ke Taman Fantasy di Jakarta. Safa dan Kiran
tersenyum sepanjang waktu. Aldo
san Safa pulang bersama.
Bagi Safa, Aldo
adalah satu-satunya lelaki yang sangat baik kepadanya setelah Ayahnya. Ia
sangat perhatian kepadanya, Safa diam-diam menyukai Aldo. Menurutnya, lelaki
ini adalah cinta pertamanya. Mereka
mampir ke sebuah Kafe yang tidak jauh dari Taman Fantasy.
“Fa, lo gue
anter ya ntar sampai rumah.” Aldo
membuka percakapan.
“Nggak usah Do,
ngrepotin lo banget.”
“Nggak Fa,
lagian juga naik motor kok.”
“Nggak ganti
uang bensin dong gue.” Ucap
Safa cekikikan.
“Fa gue mau
ngaku sama lo.”
“Ngaku apaan?
Muka lo nggak usah sok manis gitu deh.” Safa kembali tertawa.
“Gue
suka sama lo Fa dari dulu.” Ucap Aldo serius.
Kaget,
itu yang Safa rasakan saat ini. Ia
tidak menyangka Aldo akan mengatakan hal itu padanya. Bimbang yang sekarang
melandanya.Aldo, sahabatnya yang berhasil membuat dirinya terpesona kini
menyatakan cinta padanya. Ia
sangat senang Aldo memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun bagaimana dengan Kiran dan Teddy
?. Ia
tak ingin persahabatan mereka hancur berantakan.
“Fa,
lo kok diem aja gue cuman ngutarakan perasaan gue ke lo kok.”
Safa
masih terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Pikirannya dipenuhi
dengan kemungkinan-kemungkinan hancurnya persahabatan mereka. Setiap ada Aldo
ia akan berusaha menjauh dan bersiap acuh. Aldo terus menjadi bayang-bayang
Safa wajah lelaki itu, bagaimana ia menjaganya. Sungguh hal ini menyakitkan
bagi Safa. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan hampir 4 bulan ini ia dan Aldo
tidak pernah bersama lagi.
Kiran
dan Teddy mengetahui ada yang mencurigakan diantara kedua sahabatnya itu. Mereka berdua bertanya
pada Safa san Aldo namun keduanya hanya mengatakan bahwa tidak ada apa-apa diantara
mereka. Hingga
saat mereka berempat lulus, Safa dan Aldo belum berbaikan. Aldo terus
mengunjungi rumah Safa namun gadis itu terus menerus punya cara untuk
menghindari dirinya.
Beberapa
minggu kemudian Aldo menghilang.
Safa mulai merasa kehilangan. Ia
merasa bersalah telah mengacuhkan Aldo, tetapi ia hanya mencoba menyelamatkan
persahabatan mereka. Kiran akhirnya menanyakan kembali alasan Safa menghindar
setiap ada Aldo. Akhirnya ia menceritakan apa yang terjadi diantara ia dan
Aldo. Kiran mendengarkan dengan seksama dan akhirnya memberikan saran.
“Jadi
selama ini lo sama Aldo kaya gitu gara-gara Aldo terus terang kalau dia suka
sama lo, terus lo ngehindar dari dia karena lo nggak mau persahabatan kita
bubar?”
“Iya
ran, gue cuma nggak mau persahabatan kita bubar gitu aja cuma masalah cinta.”
“Tetapi
kini dia menghilang ran, gue ngerasa bersalah.” Safa merasa bersalah.
“Lo
udah nanya ke rumahnya? Udah
berusaha menghubungi nomornya?”
“Udah
ran, dan semuanya nihil. Rumah Aldo kosong, pembantunya mengatakan bahwa Aldo
dan Alex melanjutkan study ke luar negeri. Gue sayang sama Aldo ran.” Akirnya
air mata Safa berhasil keluar.
“Fa
percaya deh, Aldo bakal balik ke lo suatu saat nanti. Tunggu saat itu dengan
sabar.”Kiran menguatkan Safa.
Bertahun-tahun
telah berlalu, Safa tetap menunggu Aldo, walaupun banyak lelaki yang menyatakan
perasaan kepadanya, baginya Aldo lah yang mampu membuatnya jatuh hati. Saat ini
ia telah bekerja disalah satu kantor swasta di Jakarta. Sehari-hari ia sibuk
dengan rutinitas kerjanya, Kiran juga satu kantor dengannya. Sahabatnya itu
saat ini telah menjadi kekasih Teddy. Mereka bertiga masih sering berkumpul
bersama saat pulang kerja atau weekend.
Hari
ini disaat Safa dan Kiran pulang bersama tiba-tiba Teddy datang menjemput
mereka dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Mobil Avanza hitam milik
Teddy melaju kencang membuyarkan keramaian kota Jakarta. Akhirnya setelah
beberapa menit mereka sampai disebuah Kafe
yang tidak terlalu mewah. Mereka
duduk dan memesan beberapa makanan dan minuman.
“Fa,
lo beneran nggak tahu sekarang Aldo dimana?” Tanya Teddy.
“Nggak
tahu ted, emang lo tahu?” Jawab Safa.
“Engga
juga, kemana ya dia sekarang kangen rasanya.” Jawab Teddy.
“Lo
kangen sama dia Fa?” Tanya Kiran pada Safa
Safa
hanya terdiam, memang bayangan Aldo belum bisa ia hapus dari hatinya. Masih
terbayang hal-hal manis yang selalu lelaki itu lakukan untuknya. Betapa manis
kenangan waktu itu saat mereka bersama, mereka berempat, ya waktu itu sekarang
hanyalah kenangan. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.Safa
menoleh dan senyumnya mengembang. Lelaki yang ia sukai berdiri dibelakangnya
dan membawakan kue ulang tahun dan sebuket bunga.
“Selamat
ulang tahun fa,” Aldo tersenyum padanya
“Lo
kok bisa disini? Darimana
aja lo selama ini?”Ucap Safa terharu.
“Jadi
gini dulu gue nggak sengaja ketemu Aldo
di Perusahaan Ayah gue, makanya gue ajakin dia kesini. Dia nanyain lo
terus sih fa!” Jawab
Teddy cekikikan.
Mereka
berempat kembali bersama layaknya dulu pada saat mereka SMA. Mereka bertiga
memberikan kado kepada Safa namun Aldo lah yang memberikan kado terbesar.
“Fa,
selama ini gue menghilang dari lo, karena gue pikir gue bisa bikin perasaan gue
ke lo menghilang. Namun ternyata semuanya sama saja. Lo tetep satu-satunya
orang yang gue sayang” Aku Aldo, “Lo mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Aldo dengan
serius.
Berat
untuk Safa menjawabnya, namun ia tak ingin kehilangan Aldo lagi. Akhirnya Safa
mengangguk pasti. Aldo
yang melihatnya mengangguk langsung memeluknya. Ia sangat bahagia
memiliki Safa. Ia ingin melindungi gadis ini.
Akhirnya
mereka berempat bisa berkumpul bersama kembali, seperti masa-masa saat mereka
di SMA. Namun
sekarang status mereka bukan hanya seorang sahabat namun juga sepasang kekasih
yang saling mencintai.